MAKALAH
GIZI
DAN DIET
MASALAH
GIZI PADA BAYI DAN BALITA
MARASMUS
DI
SUSUN OLEH :
KELOMPOK
4
1. AYU
CITRA RAHMASARI
2. CAHYADI
HERLANDO
3. ENGGI
AFRILIAN
4. PUTRI
AIDA NURUL ISLAMI
5. SRI
DAMAIYANTI
PRODI D III
KEPERAWATAN
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
2018
KATA PENGANTAR
Puji
dan Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat
sertaa hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan tugas makalah
penulis yang bertema MASALAH GIZI PADA BAYI DAN BALITA : MARASMUS
Shalawat dan salam tidak
lupa penulis kirimkan kepada rasulullah Nabi Muhammad SAW yang telah membawa
kita dari alam kegelapan menuju zaman terang benderang ini.
Makalah ini di maksudkan
sebagai tuntutan belajar bagi mahasiswa di institusi pendidikan kesehatan
khususnya program studi D-III Keperawatan Semoga dengan adanya makalah ini bisa
memberi sedikit pengetahuan
bagi pembaca khususnya bagi penulis sendiri, makalah ini terselesaikan oleh
karena bantuan banyak pihak.
Tentunya
penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan serta masih jauh dari kata
kesempurnaan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang mendukung
dari para pembaca untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Akhir
kata penulis mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Pringsewu. 02 Maret 2018
Penulis
DAFTAR
ISI
BAB I
PENDAHULUAN
Kurang
kalori protein (KKP) merupakan salah satu masalah gizi masyarakat yang utama diIndonesia.
Upaya untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat telah dilaksanakan melalui
berbagai program perbaikan gizi oleh Departemen Kesehatan bekerja sama dengan
masyarakat. Namun, dilihat dari contoh kasus kurang gizi di Indonesia, masih
banyak anak-anak yang menderita penyakit akibat KKP yang sangat memprihatinkan,
salah satunya adalah marasmus. Hal ini dapat dipahami karena marasmus sering
berhubungan dengan keadaan kepadatan penduduk, adanya infeksi, konsumsi kalori
yang tidak memadai yang mengakibatkan kekurangan protein dan mikronutrisi,
cedera atau penyakit menahun, dan higiene yang kurang di daerah perkotaan yang
sedang membangun, serta terjadinya krisis ekonomi di lndonesia. Dengan alasan
itulah, maka dalam makalah ini akan dibahas tentang hal – hal yang berhubungan
dengan marasmus.
1. Apa
yang disebut marasmus?
2. Apa
gejala – gejala dan penyebab terjadinya marasmus?
3. Bagaimana
cara pencegahan dan pengobatan pada marasmus?
BAB II
PEMBAHASAN
Marasmus berasal dari kata Yunani yang
berarti kurus-kering. Sebaliknya walau asupan protein sangat kurang, tetapi si
anak masih menerima asupan hidrat arang (misalnya nasi ataupun sumber energi
lainnya). Marasmus disebabkan karena kurang kalori yang berlebihan, sehingga
membuat cadangan makanan yang tersimpan dalam tubuh terpaksa dipergunakan untuk
memenuhi kebutuhan yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup. Marasmus
adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori
yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan
mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. (Dorland, 1998:649)
Marasmus adalah suatu penyakit yang
disebabkan oleh kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196). Marasmus adalah
malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau
higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang
menekankan satu ayau lebih tanda defisiensi protein dan kalori. (Nelson).
Marasmus merupakan keadaan dimana seorang anak mengalami defisiensi energi dan
protein. Umumnya kondisi ini dialami masyarakat yang menderita kelaparan. Gizi
buruk tipe marasmus adalah suatu keadaan dimana pemberian makanan tidak cukup
atau higiene jelek yang menyebabkan defisiensi karbohidrat.
1.
Gejala
Gejala Gejala yang
terjadi pada penderita marasmus adalah keadaan yang terlihat mencolok seperti
hilangnya lemak subkutan, terutama pada wajah. Akibatnya ialah wajah si anak
lonjong, berkeriput dan tampak lebih tua (old man face). Otot-otot lemah dan
atropi, bersamaan dengan hilangnya lemak subkutan maka anggota gerak terlihat
seperti kulit dengan tulang dan turgor kulit menghilang. Torax dan tulang rusuk
tampak lebih jelas. Dinding perut hipotonus dan usianya. Suhu tubuh bisa rendah
karena lapisan penahan panas hilang (Rani et al 1998).
Gejala klinis marasmus terdiri dari :
a. Pertumbuhan
dan perkembangan fisik terganggu, bahkan sampai berat badan dibawah waktu lahir
(berat badan < 60%).
b. Tampak
sangat kurus (gambaran seperti kulit pembalut tulang).
c. Muka
seperti orang tua (old man face).
d. Pucat,
cengeng, lethargi, malaise dan apatis.
e. Rambut
kusam, kadang-kadang pirang, kering, tipis dan mudah dicabut.
f. Kulit
keriput, dingin, kering, mengendur, jaringan lemak subkutis sangat sedikit
sampai tidak ada, sehingga kulit kehilangan turgornya.
g. Jaringan
otot hipotrofi dan hipotoni.
h. Perut
membuncit atau cekung dengan gambaran usus yang jelas.
i.
Ujung tangan dan kaki terasa dingin dan
tampak sianosis.
j.
Sering disertai penyakit infeksi, diare
kronis atau konstipasi.
k. pantat
kosong, paha kosong.
l.
Mata besar dan dalam, sinar mata sayu.
m. Feces
lunak atau diare.
n. Tekanan
darah lebih rendah dari usia sebayanya.
o. Frekuensi
nafas berkurang.
p. Kadar
Hb berkurang.
q. Disertai
tanda-tanda kekurangan vitamin.
Perubahan biokimia yang
ditemukan pada marasmus adalah :
a. Anemia
ringan sampai berat.
b. Kadar
albumin dan globulin serum rendah.
c. Kadar
kolesterol serum yang rendah.
d. Kadar
gula darah yang rendah.
2.
Penyebab
Marasmus
Penyebab utama marasmus
adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup,
kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak
terganggu,karena kelainan metabolik, atau malformasi kongenital. (Nelson).
Faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya marasmus, antara lain :
a. Pola
makan Protein (dan asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk
tumbuh dan berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup,
tidak semua makanan mengandung protein/asam amino yang memadai. Diet yang
kurang energi juga dapat mengakibatkan terjadinya marasmus.
b. Kepadatan
penduduk Mc Laren (1982) memperkirakan bahwa, marasmus terdapat dalam jumlah
yang banyak akibat suatu daerah terlalu padat penduduknya dengan higiene yang
buruk.
c. Faktor
sosial Keadaan sosial yang tidak stabil, ataupun adanya pantangan untuk
menggunakan bahan makanan tertentu dan sudah berlansung turun-temurun dapat
menjadi hal yang menyebabkan terjadinya marasmus.
d. Factor
pendidikan Kurang adanya pengetahuan tentang pentingnya gizi dikalangan
masyarakat yang pendidikannya relative rendah.
e. Faktor
ekonomi Kemiskinan keluarga, penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi
kebutuhan dan ketidakmampuan dalam membeli bahan makanan berakibat pada
keseimbangan nutrisi anak yang tidak terpenuhi, saat dimana ibunya pun tidak
dapat mencukupi kebutuhan proteinnya.
f. Faktor
infeksi dan penyakit lain Terdapat interaksi sinergis antara MEP (Malnutrisi
energi protein) dan infeksi. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan
gizi. Infeksi berat dapat memperburuk keadaan gizi melalui gangguan masukan dan
meningginya kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh. Dan sebaliknya MEP,
walaupun dalam derajat ringan akan menurunkan imunitas tubuh terhadap infeksi.
Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain seperti sering
diserang diare, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi,
gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf pusat.
(Dr. Solihin)
Marasmus
dapat terjadi pada segala umur. Pada anak-anak, biasanya penyebab terjadinya
marasmus disebabkan karena tidak tercukupinya kebutuhan ASI sewaktu bayi.
Menurut Laren et al (2000), penyebab marasmus ialah kurang kalori-protein yang
berat. Keadaan ini merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan
makanan dan penyakit infeksi. Selain faktor lingkungan, ada beberapa faktor
lain pada diri anak sendiri yang dibawa sejak lahir, diduga berpengaruh
terhadap terjadinya marasmus.
Secara
garis besar, sebab-sebab marasmus ialah masukan makanan yang kurang. Marasmus
terjadi akibat masukan kalori yang sedikit, pemberian makanan yang tidak sesuai
dengan yang dianjurkan akibat dari ketidaktahuan orang tua si anak, misalnya
pemakaian secara luas susu kaleng yang terlalu encer. Infeksi yang berat dan
lama menyebabkan marasmus, terutama infeksi enteral misalnya infantil
gastroenteritis, bronkhopneumonia, pielonephritis dan sifilis kongenital.
Kelainan struktur bawaan misalnya, penyakit jantung bawaan. Marasmus juga dapat
disebabkan oleh Prematuritas dan penyakit pada masa neonates. Dimana pada
keadaan-keadaan tersebut pemberian ASI kurang akibat reflek mengisap yang
kurang kuat. Tetapi pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan
tambahan yang cukup juga akan menyebabkan terjadinya marasmus. Gangguan
metabolik misalnya renal asidosis, idiopathic hypercalcemia, galacosemia,
lactose intolerance serta penyapihan yang terlalu dini disertai dengan
pemberian makanan yang kurang akan menimbulkan marasmus. Sebenarnya malnutrisi
merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. Faktor-faktor ini
dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu : tubuh sendiri (host), agent
(kuman penyebab), environment (lingkungan). Memang faktor diet (makanan) memegang
peranan penting tetapi faktor lain ikut menentukan.
Gopalan
menyebutkan marasmus adalah compensated malnutrition. Dalam keadaan kekurangan
makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi
kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat,
protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan
kehidupan. Karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh
sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat
sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan.
Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan
asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan di ginjal. Selama
puasa jaringan lemak dipecah jadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot
dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi, jika
kekurangan makanan ini berjalan menahun. (Laren et al 2000)
1.
Pencegahan
Beberapa cara untuk
mencegah terjadinya marasmus pada anak, antara lain sebagai berikut :
a. Memberikan
ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai
dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan
tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun.
b. Anak
diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak,
vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari
total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.
c. Rajin
menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati
apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai,
segera konsultasikan hal itu ke dokter.
d. Jika
anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada
petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah
sakit.
e. Jika
anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang
tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya
bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu
meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting
lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi
yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan
secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang
permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari.
Tindakan
pencegahan terhadap marasmus menurut Rani et al (1998) dapat dilaksanakan
dengan baik bila penyebab diketahui. Usaha-usaha tersebut memerlukan sarana dan
prasarana kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi.
Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi yang
paling baik untuk bayi. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi
pada umur 6 tahun ke atas. Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan
kebersihan lingkungan dan kebersihan perorangan, pemberian imunisasi, dan
mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu kerap.
Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan
usaha pencegahan jangka panjang. Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak
di daerah yang endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan tiap
bulan.
2.
Pengobatan
Tujuan pengobatan pada
penderita marasmus adalah pemberian diet tinggi kalori dan tinggi protein serta
mencegah kekambuhan. Penderita marasmus tanpa komplikasi dapat berobat jalan asal diberi penyuluhan mengenai
pemberian makanan yang baik; sedangkan penderita yang mengalami komplikasi
serta dehidrasi, syok, asidosis dan lain-lain perlu
mendapat perawatan di
rumah sakit. Penatalaksanaan penderita yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa
tahap.
ü Tahap
awal yaitu 24-48 jam pertama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk
menyelamatkan jiwa, antara lain mengkoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis
dengan pemberian cairan intravena. Cairan yang diberikan ialah larutan
Darrow-Glucosa atau Ringer Lactat Dextrose 5%. Cairan diberikan sebanyak 200
ml/kg BB/hari. Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama. Kemudian
140 ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.
ü Tahap
kedua yaitu penyesuaian. Sebagian besar penderita tidak memerlukan koreksi
cairan dan elektrolit, sehingga dapat langsung dimulai dengan penyesuaian
terhadap pemberian makanan. Pada hari-hari pertama jumlah kalori yang diberikan
sebanyak 30-60 kalori/kg BB/hari atau rata-rata 50 kalori/kg BB/hari, dengan
protein 1-1,5 g/kg BB/hari. Jumlah ini dinaikkan secara berangsur-angsur tiap
1-2 hari sehingga mencapai 150-175 kalori/kg BB/hari dengan protein 3-5 g/kg
BB/hari. Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet tinggi
Kalori
tinggi protein ini lebih kurang 7-10 hari. Cairan diberikan sebanyak 150 ml/kg
BB/hari. Pemberian vitamin dan mineral yaitu vitamin A diberikan sebanyak
200.000. i.u peroral atau 100.000 i.u im pada hari pertama kemudian pada hari
ke duadiberikan 200.000 i.u. oral. Vitamin A diberikan tanpa melihat
ada/tidaknya gejala defisiensi Vitamin A. Mineral yang perlu ditambahkan ialah
K, sebanyak 1-2 Meq/kg BB/hari/IV atau dalam bentuk preparat oral 75-100 mg/kg
BB/hari dan Mg, berupa MgS04 50% 0,25 ml/kg BB/hari atau megnesium oral 30 mg/kg
BB/hari. Dapat diberikan 1 ml vit Bc dan 1 ml vit. C im, selanjutnya diberikan
preparat oral atau dengan diet.
Jenis
makanan yang memenuhi syarat untuk penderita malnutrisi berat ialah susu. Dalam
pemilihan jenis makanan perlu diperhatikan berat badan penderita. Dianjurkan
untuk memakai pedoman BB kurang dari 7 kg diberikan makanan untuk bayi dengan
makanan utama ialah susu formula atau susu yang dimodifikasi, secara bertahap
ditambahkan makanan lumat dan makanan lunak. Penderita dengan BB di atas 7 kg diberikan
makanan untuk anakdi atas 1 tahun, dalam bentuk makanan cair kemudian makanan
lunak dan makanan padat.Antibiotik perlu diberikan, karena penderita marasmus
sering disertai infeksi. Pilihan obat yang dipakai ialah procain penicillin
atau gabungan penicilin dan streptomycin.
Hal-hal yang lain perlu
diperhatikan :
a. Kemungkinan
hipoglikemi dilakukan pemeriksaan dengan dextrostix. Bila kadar guladarah
kurang dari 40% diberikan terapi 1-2 ml glukose 40%/kg BB/IV
b. Hipotermi.
Diatasi dengan penggunaan selimut atau tidur dengan ibunya. Dapat diberikan
botol panas atau pemberian makanan sering tiap 2 jam. Pemantauan penderita
dapat dilakukan dengan cara penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan
serta tebal lemak subkutan. Pada minggu-minggu pertama sering belum dijumpai
pertambahan berat badan. Setelah tercapai penyesuaian barulah dijumpai
pertambahan berat badan. Penderita boleh dipulangkan bila terjadi kenaikan
sampai kira-kira 90% BB normal menurut umurnya, bila nafsu makannya telah
kembali dan penyakit infeksi telah teratasi. Penderita yang telah kembali nafsu
makannya dibiasakan untuk mendapat makanan biasa seperti yang dimakan
sehari-hari. Kebutuhan kalori menjadi normal kembali karena tubuh telah
menyesuaikan diri lagi. Sementara itu kepada orang tua diberikan penyuluhan
tentang pemberian makanan, terutama mengenai pemilihan bahan makanan,
pengolahannya, yang sesuai dengan daya belinya. Mengingat sulitnya merawat
penderita dengan malnutrisi, maka usaha pencegahan perlu lebih ditingkatkan.
BAB III
PENUTUP
Marasmus adalah salah satu bentuk gizi
buruk yang sering ditemui pada anak – anak. Gejala – gejalanya terlihat
mencolok dan penyebabnya multifaktorial antara lain masukan makanan yang
kurang, faktor penyakit dan faktor lingkungan, ketidaktahuan untuk memilih
makanan yang bergizi, keadaan ekonomi yang tidak menguntungkan, dll. Diagnosis
ditegakkan berdasarkan gambaran klinis untuk menentukan penyebab perlu
anamnesis makanan dan penyakit lain. Kasus marasmus pada anak – anak masih banyak
terjadi di Indonesia, terutama pada masyarakat dengan tingkat ekonomi yang
rendah. Pencegahan terhadap marasmus ditujukan kepada penyebab dan memerlukan
pelayanan kesehatan dan penyuluhan yang baik. Pengobatan marasmus ialah
pemberian diet tinggi kalori dan tinggi protein dan penatalaksanaan di rumah
sakit yang harus dilakukan secara rutin dan terkontrol.
1. Diharapkan
kepada seluruh masyarakat untuk dapat memenuhi asupan kalori dan protein
yang cukup dan seimbang, agar anak –
anak dapat tumbuh dengan sehat.
2. Setiap
anggota keluarga, terutama orang tua
harus dapat mengupayakan dan memperhatikan pemenuhan gizi anak, agar tidak menderita gizi buruk.
3. Tenaga
kesehatan dapat mengadakan penyuluhan kepada masyarakat tentang gizi, terutama
di daerah yang diindikasikan terjadinya gizi buruk seperti marasmus.
4. Pada
penderita marasmus sebaiknya anak diberi energi tinggi dan protein tinggi,
dengan mengobati faktor penyakit penyerta, serta apabila anak sudah agak
membaik tidak lupa memperhatikan atau
menimbang berat badannya secara rutin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar