Kamis, 19 April 2018

MAKALAH GIZI DAN DIET MASALAH GIZI PADA BAYI DAN BALITA MARASMUS

MAKALAH
GIZI DAN DIET
MASALAH GIZI PADA BAYI DAN BALITA
MARASMUS










DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 4
1.      AYU CITRA RAHMASARI
2.      CAHYADI HERLANDO
3.      ENGGI AFRILIAN
4.      PUTRI AIDA NURUL ISLAMI
5.      SRI DAMAIYANTI





PRODI  D III  KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
2018

KATA PENGANTAR


Puji dan Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat sertaa hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan tugas makalah penulis yang bertema MASALAH GIZI PADA BAYI DAN BALITA : MARASMUS
Shalawat dan salam tidak lupa penulis kirimkan kepada rasulullah Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam kegelapan menuju zaman terang benderang ini.
Makalah ini di maksudkan sebagai tuntutan belajar bagi mahasiswa di institusi pendidikan kesehatan khususnya program studi D-III Keperawatan Semoga dengan adanya makalah ini bisa memberi sedikit pengetahuan bagi pembaca khususnya bagi penulis sendiri, makalah ini terselesaikan oleh karena bantuan banyak pihak.
Tentunya penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan serta masih jauh dari kata kesempurnaan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dari para pembaca untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Akhir kata penulis mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Pringsewu. 02 Maret 2018


Penulis








DAFTAR ISI













BAB I

PENDAHULUAN

Kurang kalori protein (KKP) merupakan salah satu masalah gizi masyarakat yang utama diIndonesia. Upaya untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat telah dilaksanakan melalui berbagai program perbaikan gizi oleh Departemen Kesehatan bekerja sama dengan masyarakat. Namun, dilihat dari contoh kasus kurang gizi di Indonesia, masih banyak anak-anak yang menderita penyakit akibat KKP yang sangat memprihatinkan, salah satunya adalah marasmus. Hal ini dapat dipahami karena marasmus sering berhubungan dengan keadaan kepadatan penduduk, adanya infeksi, konsumsi kalori yang tidak memadai yang mengakibatkan kekurangan protein dan mikronutrisi, cedera atau penyakit menahun, dan higiene yang kurang di daerah perkotaan yang sedang membangun, serta terjadinya krisis ekonomi di lndonesia. Dengan alasan itulah, maka dalam makalah ini akan dibahas tentang hal – hal yang berhubungan dengan marasmus.

1.      Apa yang disebut marasmus?
2.      Apa gejala – gejala dan penyebab terjadinya marasmus?
3.      Bagaimana cara pencegahan dan pengobatan pada marasmus?







BAB II

PEMBAHASAN

      Marasmus berasal dari kata Yunani yang berarti kurus-kering. Sebaliknya walau asupan protein sangat kurang, tetapi si anak masih menerima asupan hidrat arang (misalnya nasi ataupun sumber energi lainnya). Marasmus disebabkan karena kurang kalori yang berlebihan, sehingga membuat cadangan makanan yang tersimpan dalam tubuh terpaksa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup. Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot. (Dorland, 1998:649)
       Marasmus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan kalori protein. (Suriadi, 2001:196). Marasmus adalah malnutrisi berat pada bayi sering ada di daerah dengan makanan tidak cukup atau higiene kurang. Sinonim marasmus diterapkan pada pola penyakit klinis yang menekankan satu ayau lebih tanda defisiensi protein dan kalori. (Nelson). Marasmus merupakan keadaan dimana seorang anak mengalami defisiensi energi dan protein. Umumnya kondisi ini dialami masyarakat yang menderita kelaparan. Gizi buruk tipe marasmus adalah suatu keadaan dimana pemberian makanan tidak cukup atau higiene jelek yang menyebabkan defisiensi karbohidrat.

1.      Gejala
Gejala Gejala yang terjadi pada penderita marasmus adalah keadaan yang terlihat mencolok seperti hilangnya lemak subkutan, terutama pada wajah. Akibatnya ialah wajah si anak lonjong, berkeriput dan tampak lebih tua (old man face). Otot-otot lemah dan atropi, bersamaan dengan hilangnya lemak subkutan maka anggota gerak terlihat seperti kulit dengan tulang dan turgor kulit menghilang. Torax dan tulang rusuk tampak lebih jelas. Dinding perut hipotonus dan usianya. Suhu tubuh bisa rendah karena lapisan penahan panas hilang (Rani et al 1998).
 Gejala klinis marasmus terdiri dari :
a.       Pertumbuhan dan perkembangan fisik terganggu, bahkan sampai berat badan dibawah waktu lahir (berat badan < 60%).
b.      Tampak sangat kurus (gambaran seperti kulit pembalut tulang).
c.       Muka seperti orang tua (old man face).
d.      Pucat, cengeng, lethargi, malaise dan apatis.
e.       Rambut kusam, kadang-kadang pirang, kering, tipis dan mudah dicabut.
f.       Kulit keriput, dingin, kering, mengendur, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada, sehingga kulit kehilangan turgornya.
g.      Jaringan otot hipotrofi dan hipotoni.
h.      Perut membuncit atau cekung dengan gambaran usus yang jelas.
i.        Ujung tangan dan kaki terasa dingin dan tampak sianosis.
j.        Sering disertai penyakit infeksi, diare kronis atau konstipasi.
k.      pantat kosong, paha kosong.
l.        Mata besar dan dalam, sinar mata sayu.
m.    Feces lunak atau diare.
n.      Tekanan darah lebih rendah dari usia sebayanya.
o.      Frekuensi nafas berkurang.
p.      Kadar Hb berkurang.
q.      Disertai tanda-tanda kekurangan vitamin.

Perubahan biokimia yang ditemukan pada marasmus adalah :
a.       Anemia ringan sampai berat.
b.      Kadar albumin dan globulin serum rendah.
c.       Kadar kolesterol serum yang rendah.
d.      Kadar gula darah yang rendah.



2.      Penyebab Marasmus
Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak terganggu,karena kelainan metabolik, atau malformasi kongenital. (Nelson).
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya marasmus, antara lain :
a.       Pola makan Protein (dan asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup, tidak semua makanan mengandung protein/asam amino yang memadai. Diet yang kurang energi juga dapat mengakibatkan terjadinya marasmus.
b.      Kepadatan penduduk Mc Laren (1982) memperkirakan bahwa, marasmus terdapat dalam jumlah yang banyak akibat suatu daerah terlalu padat penduduknya dengan higiene yang buruk.
c.       Faktor sosial Keadaan sosial yang tidak stabil, ataupun adanya pantangan untuk menggunakan bahan makanan tertentu dan sudah berlansung turun-temurun dapat menjadi hal yang menyebabkan terjadinya marasmus.
d.      Factor pendidikan Kurang adanya pengetahuan tentang pentingnya gizi dikalangan masyarakat yang pendidikannya relative rendah.
e.       Faktor ekonomi Kemiskinan keluarga, penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dan ketidakmampuan dalam membeli bahan makanan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak yang tidak terpenuhi, saat dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan proteinnya.
f.       Faktor infeksi dan penyakit lain Terdapat interaksi sinergis antara MEP (Malnutrisi energi protein) dan infeksi. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi. Infeksi berat dapat memperburuk keadaan gizi melalui gangguan masukan dan meningginya kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh. Dan sebaliknya MEP, walaupun dalam derajat ringan akan menurunkan imunitas tubuh terhadap infeksi. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain seperti sering diserang diare, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorpsi, gangguan metabolik, penyakit ginjal menahun dan juga gangguan pada saraf pusat. (Dr. Solihin)
Marasmus dapat terjadi pada segala umur. Pada anak-anak, biasanya penyebab terjadinya marasmus disebabkan karena tidak tercukupinya kebutuhan ASI sewaktu bayi. Menurut Laren et al (2000), penyebab marasmus ialah kurang kalori-protein yang berat. Keadaan ini merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan penyakit infeksi. Selain faktor lingkungan, ada beberapa faktor lain pada diri anak sendiri yang dibawa sejak lahir, diduga berpengaruh terhadap terjadinya marasmus.
Secara garis besar, sebab-sebab marasmus ialah masukan makanan yang kurang. Marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit, pemberian makanan yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan akibat dari ketidaktahuan orang tua si anak, misalnya pemakaian secara luas susu kaleng yang terlalu encer. Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus, terutama infeksi enteral misalnya infantil gastroenteritis, bronkhopneumonia, pielonephritis dan sifilis kongenital. Kelainan struktur bawaan misalnya, penyakit jantung bawaan. Marasmus juga dapat disebabkan oleh Prematuritas dan penyakit pada masa neonates. Dimana pada keadaan-keadaan tersebut pemberian ASI kurang akibat reflek mengisap yang kurang kuat. Tetapi pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan yang cukup juga akan menyebabkan terjadinya marasmus. Gangguan metabolik misalnya renal asidosis, idiopathic hypercalcemia, galacosemia, lactose intolerance serta penyapihan yang terlalu dini disertai dengan pemberian makanan yang kurang akan menimbulkan marasmus. Sebenarnya malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu : tubuh sendiri (host), agent (kuman penyebab), environment (lingkungan). Memang faktor diet (makanan) memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut menentukan.
Gopalan menyebutkan marasmus adalah compensated malnutrition. Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan. Karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan di ginjal. Selama puasa jaringan lemak dipecah jadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi, jika kekurangan makanan ini berjalan menahun. (Laren et al 2000)
1.      Pencegahan
Beberapa cara untuk mencegah terjadinya marasmus pada anak, antara lain sebagai berikut :
a.       Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun.
b.      Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.
c.       Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera konsultasikan hal itu ke dokter.
d.      Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit.
e.       Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari.
Tindakan pencegahan terhadap marasmus menurut Rani et al (1998) dapat dilaksanakan dengan baik bila penyebab diketahui. Usaha-usaha tersebut memerlukan sarana dan prasarana kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi. Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi yang paling baik untuk bayi. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi pada umur 6 tahun ke atas. Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan kebersihan perorangan, pemberian imunisasi, dan mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu kerap. Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan usaha pencegahan jangka panjang. Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak di daerah yang endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan.
2.      Pengobatan
Tujuan pengobatan pada penderita marasmus adalah pemberian diet tinggi kalori dan tinggi protein serta mencegah kekambuhan. Penderita marasmus tanpa komplikasi dapat  berobat jalan asal diberi penyuluhan mengenai pemberian makanan yang baik; sedangkan penderita yang mengalami komplikasi serta dehidrasi, syok, asidosis dan lain-lain perlu
mendapat perawatan di rumah sakit. Penatalaksanaan penderita yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap.
ü  Tahap awal yaitu 24-48 jam pertama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk menyelamatkan jiwa, antara lain mengkoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan intravena. Cairan yang diberikan ialah larutan Darrow-Glucosa atau Ringer Lactat Dextrose 5%. Cairan diberikan sebanyak 200 ml/kg BB/hari. Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama. Kemudian 140 ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.

ü  Tahap kedua yaitu penyesuaian. Sebagian besar penderita tidak memerlukan koreksi cairan dan elektrolit, sehingga dapat langsung dimulai dengan penyesuaian terhadap pemberian makanan. Pada hari-hari pertama jumlah kalori yang diberikan sebanyak 30-60 kalori/kg BB/hari atau rata-rata 50 kalori/kg BB/hari, dengan protein 1-1,5 g/kg BB/hari. Jumlah ini dinaikkan secara berangsur-angsur tiap 1-2 hari sehingga mencapai 150-175 kalori/kg BB/hari dengan protein 3-5 g/kg BB/hari. Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet tinggi
Kalori tinggi protein ini lebih kurang 7-10 hari. Cairan diberikan sebanyak 150 ml/kg BB/hari. Pemberian vitamin dan mineral yaitu vitamin A diberikan sebanyak 200.000. i.u peroral atau 100.000 i.u im pada hari pertama kemudian pada hari ke duadiberikan 200.000 i.u. oral. Vitamin A diberikan tanpa melihat ada/tidaknya gejala defisiensi Vitamin A. Mineral yang perlu ditambahkan ialah K, sebanyak 1-2 Meq/kg BB/hari/IV atau dalam bentuk preparat oral 75-100 mg/kg BB/hari dan Mg, berupa MgS04 50% 0,25 ml/kg BB/hari atau megnesium oral 30 mg/kg BB/hari. Dapat diberikan 1 ml vit Bc dan 1 ml vit. C im, selanjutnya diberikan preparat oral atau dengan diet.
Jenis makanan yang memenuhi syarat untuk penderita malnutrisi berat ialah susu. Dalam pemilihan jenis makanan perlu diperhatikan berat badan penderita. Dianjurkan untuk memakai pedoman BB kurang dari 7 kg diberikan makanan untuk bayi dengan makanan utama ialah susu formula atau susu yang dimodifikasi, secara bertahap ditambahkan makanan lumat dan makanan lunak. Penderita dengan BB di atas 7 kg diberikan makanan untuk anakdi atas 1 tahun, dalam bentuk makanan cair kemudian makanan lunak dan makanan padat.Antibiotik perlu diberikan, karena penderita marasmus sering disertai infeksi. Pilihan obat yang dipakai ialah procain penicillin atau gabungan penicilin dan streptomycin.
Hal-hal yang lain perlu diperhatikan :
a.       Kemungkinan hipoglikemi dilakukan pemeriksaan dengan dextrostix. Bila kadar guladarah kurang dari 40% diberikan terapi 1-2 ml glukose 40%/kg BB/IV
b.      Hipotermi. Diatasi dengan penggunaan selimut atau tidur dengan ibunya. Dapat diberikan botol panas atau pemberian makanan sering tiap 2 jam. Pemantauan penderita dapat dilakukan dengan cara penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan serta tebal lemak subkutan. Pada minggu-minggu pertama sering belum dijumpai pertambahan berat badan. Setelah tercapai penyesuaian barulah dijumpai pertambahan berat badan. Penderita boleh dipulangkan bila terjadi kenaikan sampai kira-kira 90% BB normal menurut umurnya, bila nafsu makannya telah kembali dan penyakit infeksi telah teratasi. Penderita yang telah kembali nafsu makannya dibiasakan untuk mendapat makanan biasa seperti yang dimakan sehari-hari. Kebutuhan kalori menjadi normal kembali karena tubuh telah menyesuaikan diri lagi. Sementara itu kepada orang tua diberikan penyuluhan tentang pemberian makanan, terutama mengenai pemilihan bahan makanan, pengolahannya, yang sesuai dengan daya belinya. Mengingat sulitnya merawat penderita dengan malnutrisi, maka usaha pencegahan perlu lebih ditingkatkan.

BAB III

PENUTUP

      Marasmus adalah salah satu bentuk gizi buruk yang sering ditemui pada anak – anak. Gejala – gejalanya terlihat mencolok dan penyebabnya multifaktorial antara lain masukan makanan yang kurang, faktor penyakit dan faktor lingkungan, ketidaktahuan untuk memilih makanan yang bergizi, keadaan ekonomi yang tidak menguntungkan, dll. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis untuk menentukan penyebab perlu anamnesis makanan dan penyakit lain. Kasus marasmus pada anak – anak masih banyak terjadi di Indonesia, terutama pada masyarakat dengan tingkat ekonomi yang rendah. Pencegahan terhadap marasmus ditujukan kepada penyebab dan memerlukan pelayanan kesehatan dan penyuluhan yang baik. Pengobatan marasmus ialah pemberian diet tinggi kalori dan tinggi protein dan penatalaksanaan di rumah sakit yang harus dilakukan secara rutin dan terkontrol.

1.      Diharapkan kepada seluruh masyarakat untuk dapat memenuhi asupan kalori dan protein yang   cukup dan seimbang, agar anak – anak dapat tumbuh dengan sehat.
2.      Setiap anggota keluarga,  terutama orang tua harus dapat mengupayakan dan memperhatikan pemenuhan gizi anak, agar  tidak menderita gizi buruk.
3.      Tenaga kesehatan dapat mengadakan penyuluhan kepada masyarakat tentang gizi, terutama di daerah yang diindikasikan terjadinya gizi buruk seperti marasmus.
4.      Pada penderita marasmus sebaiknya anak diberi energi tinggi dan protein tinggi, dengan mengobati faktor penyakit penyerta, serta apabila anak sudah agak membaik tidak lupa    memperhatikan atau menimbang berat badannya secara rutin.

DAFTAR PUSTAKA




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEWARGANEGARAAN KETAHANAN NASIONAL

MAKALAH KEWARGANEGARAAN KETAHANAN NASIONAL DI SUSUN OLEH : KELOMPOK 5 ...