MAKALAH
MYCOBACTERIUM
LEPRAE
MATA KULIAH : MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI
Dosen Pengampu : Rizki Nisfi
Ramdhini, M.Si
DI SUSUN OLEH :
DIMAS DEPRI TAHIR
NIM: 144012017011
PRODI D III
KEPERAWATAN
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
PRINGSEWU LAMPUNG
2018
KATA PENGANTAR
Puji
dan Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat
sertaa hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan tugas makalah
penulis yang bertema MYCOBACTERIUM
LEPRAE
Shalawat dan salam tidak
lupa penulis kirimkan kepada rasulullah Nabi Muhammad SAW yang telah membawa
kita dari alam kegelapan menuju zaman terang benderang ini.
Makalah ini di maksudkan
sebagai tuntutan belajar bagi mahasiswa di institusi pendidikan kesehatan
khususnya program studi D-III Keperawatan Semoga dengan adanya makalah ini bisa
memberi sedikit pengetahuan
bagi pembaca khususnya bagi penulis sendiri, makalah ini terselesaikan oleh
karena bantuan banyak pihak.
Tentunya
penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan serta masih jauh dari kata
kesempurnaan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang mendukung
dari para pembaca untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Akhir
kata penulis mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Pringsewu. 22 Maret 2018
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
Mikroorganisme
adalah organisme yang berukuran sangat kecil dan hanya dapat diamati dengan
menggunakan mikroskop. Mikroorganisme terdapat dimana-mana. Interaksinya dengan
sesama mikroorganisme ataupun organisme lain dapat berlangsung dengan cara yang
aman dan menguntungkan maupun merugikan.Mikroorganisme yang menguntungkan dapat
kita manfaatkan untuk kepentingan kesejahteraan hidup manusia. Akan tetapi,
banyak juga mikroorganisme yang tidak menguntungkan kita yaitu dengan
menyebabkan terjadinya penyakit pada tubuh manusia.
Salah
satu contoh mikroorganisme adalah bakteri,yang mana merupakan mikroorganisme bersel-tunggal yang
bereproduksi dengan cara sederhana, yaitu dengan pembelahan biner. Bakteri juga
memiliki ciri-ciri yang membedakannya dari organisme lain yaitu prokariotik,
monoseluler, ukuran 0,4 – 2 mikro meter, reproduksi : amitosis, konjugasi,
transformasi, transduksi, memiliki dinding sel, autotrof atau heterotrof, aerob atau anaerob, hidup bebas atau parasit,
yang hidupnya kosmopolit diberbagai lingkungan dinding selnya mengandung
peptidoglikan.
Pada
bakteri terdapat pula yang menguntungkan dan merugikan, sebagai contoh bakteri
yang merugikan adalah Mycobacterium
leprae yang dapat menyebabkan atau menginfeksi manusia. Bakteri ini mengakibatkan
penyakit kusta atau lepra yang mana merupakan penyakit ganas pembunnuh manusia.
Mycobacterium leprae memiliki
karakteristik, pengklasifikasian dan daur hidup yang berbeda dari
mikroorganisme lain.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Klasifikasi
ilmiah.
Kerajaan :
Bacteria
Filum :
Actinobacteria
Ordo :
Actinomycetales
Upaordo :
Corynebacterineae
Famili :
Mycobacteriaceae
Genus :
Mycobacterium
Spesies : Mycobacterium leprae.
2.
Morfologi
Gambar . Mycobacterium leprae
Mycobacterium leprae
juga disebut Basillus Hansen, adalah
bakteri yang menyebabkan penyakit kusta (penyakit Hansen). Bakteri ini
merupakan bakteri intraselular. M. leprae
merupakan gram-positif berbentuk tongkat. Mycobacterium
leprae merupakan pathogen intrasel obligat sehingga belum dapat dibiakkan
invitro (media tak hidup). Bakteri sering ditemukan pada sel endothelial
pembuluh darah atau sel mononuclear (makrofag) sebagai lingkungan yang baik
untuk bertahan hidup dan perkembangbiakan. Perkiraan waktu bagi bakteri ini
bereplikasi adalah 10-12 hari (Martiny, 2006).
Basil
lepra ini tahan terhadap degradasi intraseluler oleh makrofag, mungkin karena
kemampuannya keluar dari fagosom ke sitoplasma makrofag dan berakumulasi hingga
mencapai 1010 basil/gram jaringan pada kasus lepratype lepromatus. Kerusakan
syaraf perifer yang terjadi merupakan sebuah respon dari system imun Karena
adanya basil ini sebagai antigen. Pada lepra type tuberkuloid, terjadi
granuloma yang sembuh dengan sendirinya bersifar berisi sedikit basil tahan
asam (Martiny, 2006).
Bakteri
Mycobacterium leprae berbentuk
batang, langsing atau sedikit membengkok dengan kedua ujung bakteri tumpul,
tidak bergerak, tidak memiliki spora dan tidak berselubung. Sel-sel panjang,
ada kecenderungan untuk bercabang. Berukuran 1-7 x 0,2-0,5µm, bersifat gram
positif, tahan asam, letak susunan bakteri tunggal atau sering bergerombol
serupa tumpukan cerutu sehingga sering disebut packed of cigarette, atau
merupakan kelompok padat sehingga tidak dapat dibedakan antara bakteri yang
satu dengan yang lainnya, kadang-kadang terdapat granulaBentuk-bentuk M. leprae yang dapat ditemukan dalam
pemeriksaan mikroskopis adalah : (Martiny, 2006).
a. Bentuk
utuh (solid): dinding sel bakteri tidak terputus, mengambil zat warna secara
sempurna. Jika terdapat daerah kosong/transparan ditengahnya juga dapat
dikatakan solid
b. Bentuk
globus: adalah bentuk solid yang membentuk kelompok, dapat dibagi 2, yaitu :
ü Globus
besar terdiri dari 200-300 bakteri
ü Globus
kecil terdiri dari 40-60 bakteri
c. Bentuk
pecah (fragmented): dinding bakteri biasanya terputus sebagian atau seluruhnya,
tidak menyerap zat warna secara merata.
d. Bentuk
berbutir-butir (granuler): tampak seperti titik-titik yang tersusun
e. Bentuk
clump adalah bentuk granuler yang membentuk kelompok tersendiri, biasanya
llebih dari 500 bakteri.
Seperti
mikobakteri lainnya ( atau bakteri ' acid - fast ' ), Mycobacterium leprae memiliki waktu yang lama untuk mereplikasi
dirinya di luar sel inang. Beberapa peneliti berpendapat bahwa Mycobacterium leprae adalah parasit
intraseluler fakultatif, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa bakteri tidak
bisa bereplikasi sama sekali di luar sel. Didukung oleh fakta bahwa Mycobacterium leprae belum pernah
dikultur in vitro. Ketika Mycobacterium
leprae menemukan host yang tepat maka bakteri ini akan bereplikasi dengan
memakan waktu hingga 13 hari untuk menjalani satu siklus replikasi. Kusta
ditandai dengan replikasi bakteri di dalam vesikel intraseluler makrofag, sel
Schwann, dan sel endotel. Secara umum, Mycobacterium
leprae lebih memilih sel-sel tersebut pada suhu lebih rendah dari tubuh
manusia, yang mengapa cenderung memanifestasikan dirinya di dekat permukaan
kulit . Metabolisme Ideal terjadi pada 33 ° C dan pH antara 5,1 dan 5,6.
1.
Penyakit
yang di sebabkan Mycobacterium leprae
Penyakit kusta adalah
penyakit kronik yang disebabkan oleh kuman
Micobacterium leprae (M.Leprae).
Yang pertama kali menyerang susunan saraf tepi , selanjutnya menyerang kulit,
mukosa (mulut), saluran pernafasan bagian atas,sistem retikulo endotelial,
mata, otot, tulang dan testis ( Amirudin.M.D, 2000 ).
Penyakit Kusta adalah penyakit menular
menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (
Mycobacterium leprae ) yang menyerang kulit, saraf tepi, dan jaringan tubuh
lain kecuali susunan saraf pusat, untuk mendiagnosanya dengan mencari
kelainan-kelainan yang berhubungan dengan gangguan saraf tepi dan
kelainan-kelainan yang tampak pada kulit ( Depkes, 2005 ).
2.
Mekanise
Terjadinya Penyakit
Gambar .
Penderita Lepra/Kusta
Penyakit kusta
merupakan jenis-jenis penyakit kulit yang sulit dideteksi dan gejalanya sukar
diamati serta muncul sangat lambat. Berikut ini beberapa gejala penyakit kusta
yang dilansir dari berbagai sumber:
ü Penderita
mengalami mati rasa. Penderita tidak bisa merasakan perubahan suhu hingga
kehilangan rasa sentuhan dan rasa sakit pada kulit.
ü Pembesaran
pembuluh darah yang biasanya di sekitar siku dan lutut.
ü Perubahan
bentuk atau kelainan pada wajah.
ü Hidung
tersumbat atau terjadi mimisan.
ü Muncul
luka tapi tidak terasa sakit.
ü Mata
menjadi kering dan jarang mengedip biasanya dirasakan sebelum muncul tukak
berukuran besar.
ü Lemah
otot atau kelumpuhan.
ü Hilangnya
jari jemari.
ü Terdapat
bercak tipis seperti panu pada beberapa bagian tubuh. Bercak putih akan terus
bertambah, seiring dengan berjalannya waktu, semakin lama semakin melebar dan
bertambah banyak.
ü Terjadinya
pelebaran syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus seryta peroneus.
ü Kelenjar
keringat mengalami penurunan fungsi kerja, sehingga kulit menjadi tipis dan
mengkilat.
ü Sponsors
Link
ü Terdapat
bintil-bintil kemerahan (leproma dan nodul) yang tersebar pada kulit
ü Alis
rambut mengalami kerontokan
ü Muka
mengalami benjolan-benjolan dan tegang, biasa disebut dengan facies leomina
(muka singa)
ü Tubuh
mengalami panas, mulai dari derajat rendah hingga menggigil.
ü Anoreksia,
mengalami mual dan malas untuk makan
ü Nausea,
hidung berlendir dan kadang-kadang disertai dengan vomitus
ü Chepalgia
ü Mengalami
iritasi, neuritis, orichitis dan pleuritis
ü Mengalami
nephrosia, nepritis dan hepatospleenomegali
Walaupun penyakit kusta
tergolong sebagai penyakit yang berbahaya, penularan penyakit kusta tidak
tergolong mudah. Ketua Komite Ahli Eliminasi Kusta dan Eradikasi Frambusia,
Hariadi Wibisono menyatakan dengan makanan sehat untuk kesehatan kulit bahwa
penyakit kusta tidak mudah menular, 95% penduduk mempunyai kekebalan alamiah
terhadap kusta. Bahkan beliau juga menyatakan bahwa tidak perlu khawatir
merangkul, bersalaman dengan orang yang sakit kusta, karena penyakit itu tidak
akan mudah menular begitu saja.
Cara awal penularan
penyakit kusta yang biasa sering menyerang seseorang, sebagai berikut:
ü Penyakit
kusta hanya bisa menular saat terjadi kontak langsung dengan pasien tersebut,
sehingga yang beresiko tinggi tertular penyakit kusta adalah orang yang tinggal
satu rumah dengan penderita penyakit kusta.
ü Menurut
Direktur Rumah Sakit Sehat Terpadu Dompet Duafa, dr Yahmin Setiawan, selain
faktor keluarga yang tidak memerhatikan kesehatan lingkungan, faktor daya tahan
tubuh yang rendah akan mengakibatkan virusakan masuk ke dalam diri orang
tersebut.
ü Virus
itu baru akan berkembang setelah beberapa tahun. Maka dari itu, perlu diadakan
sosialisasi tentang penyakit kusta secara menyeluruh, bagaimana penularanya dan
penanganannya, selain untuk mencegah penyebaran juga menghindari stigma di dalam masyarakat yang menyatakan bahwa
penyakit kusta adalah penyakit yang gampang menular.
ü Diperkirakan
terdapat dua bagian tubuh pada manusia yang menjadi jalan masuk penyakit kusta.
Dua bagian tubuh itu adalah bagian kulit dan mukosa hidung. Diduga juga bakteri
penyebab kusta, yaitu Mycobacterium leprae, juga dapat masuk lewat kelenjar
keringat.
ü Dalam
penularan penyakit kusta, faktor genetika pun ikut berperan. Hal ini dibuktikan
setelah melakukan penelitian dan pengamatan mendalam pada kelompok bisa terjadi
pada keluarga tertentu saja.
ü Faktor
ketidakcukupan gizi adalah salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab
seorang individu bisa terjangkit penyakit kusta
1.
Pemeriksaan
bakterioskopik (bakteri di laboratorium)
Pemeriksaan
bakterioskopik digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis dan pengamatan
pengobatan. Sediaan dibuat dari kerokan kulit atau mukosa hidung yang diwarnai
dengan pewarnaan terhadap bakteri tahan asam, antara lain dengan Ziehl Neelsen.
Pemeriksaan bakteri negatif pada seorang penderita, bukan berarti orang
tersebut tidak mengandung M. leprae.
Pertama-tama
kita harus memilih tempat-tempat di kulit yang diharapkan paling padat oleh
bakteri, setelah terlebih dahulu menentukan jumlah tempat yang akan diambil.
Untuk pemeriksaan rutin biasanya diambil dari minimal 4-6 tempat, yaitu kedua
cuping telinga bagian bawah dan 2-4 tempat lain yang paling aktif, berarti yang
paling merah di kulit dan infiltratif
2.
Pemeriksaan
histopatologi (jaringan sel abnormal)
Diagnosis
penyakit kusta biasanya dapat dibuat berdasarkan pemeriksaan klinis secara
teliti dan pemeriksaan bakterioskopis. Pada sebagian kecil kasus bila diagnosis
masih meragukan, pemeriksaan histopatologis dapat membantu. Pemeriksaan ini
sangat membantu khususnya pada anak-anak bila pemeriksaan saraf sensoris sulit
dilakukan, juga pada lesi dini contohnya pada tipe indeterminate, serta untuk
menentukan tipe yang tepat.
3.
Pemeriksaan
serologis
Kegagalan
pembiakan dan isolasi kuman M. leprae mengakibatkan diagnosis serologis
merupakan alternatif yang paling diharapkan. Beberapa tes serologis yang banyak
digunakan untuk mendiagnosis kusta adalah :
ü tes
FLA-ABS
ü tes
ELISA
ü tes
MLPA untuk mengukur kadar antibodi Ig G yang telah terbentuk di dalam tubuh
pasien, titer dapat ditentukan secara kuantitatif dan kualitatif.
a. Pencegahan
Cacat Kusta
Prinsip yang penting
pada perawatan sendiri untuk pencegahan cacat kusta adalah :
ü pasien
mengerti bahwa daerah yang mati rasa merupakan tempat risiko terjadinya luka
ü pasien
dapat melakukan perawatan kulit (merendam, menggosok, melumasi) dan melatih
sendi bila mulai kaku
ü penyembuhan
luka dapat dilakukan oleh pasien sendiri dengan membersihkan luka, mengurangi
tekanan pada luka dengan cara istirahat
Tujuan utama
program pemberantasan kusta adalah penyembuhan pasien kusta dan mencegah
timbulnya cacat serta memutuskan mata rantai penularan dari pasien kusta
terutama tipe yang menular kepada orang lain untuk menurunkan insiden penyakit.
Program Multi Drug Therapy (MDT)
dengan kombinasi rifampisin, klofazimin, dan DDS dimulai tahun 1981. Program
tersebut bertujuan untuk mengatasi resistensi dapson yang semakin meningkat,
mengurangi ketidaktaatan pasien, menurunkan angka putus obat, dan mengeliminasi
persistensi kuman kusta dalam jaringan.
Rejimen
pengobatan MDT di Indonesia sesuai rekomendasi WHO 1995 sebagai berikut:
a.
Tipe PB (
PAUSE BASILER)
Jenis obat dan dosis untuk orang
dewasa :
Rifampisin
600mg/bln diminum didepan petugas DDS tablet 100 mg/hari diminum di rumah.
Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan dan setelah selesai minum 6
dosis dinyatakan RFT (Release From
Treatment) meskipun secara klinis lesinya masih aktif. Menurut WHO(1995)
tidak lagi dinyatakan RFT tetapi menggunakan istilah Completion Of Treatment Cure dan pasien tidak lagi dalam
pengawasan.
b.
Tipe MB (
MULTI BASILER)
Jenis obat dan dosis untuk orang
dewasa:
Rifampisin
600mg/bln diminum didepan petugas. Klofazimin 300mg/bln diminum didepan petugas
dilanjutkan dengan klofazimin 50 mg /hari diminum di rumah. DDS 100 mg/hari
diminum dirumah, Pengobatan 24 dosis diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan
sesudah selesai minum 24 dosis dinyatakan RFT meskipun secara klinis lesinya
masih aktif dan pemeriksaan bakteri positif. Menurut WHO (1998) pengobatan MB
diberikan untuk 12 dosis yang diselesaikan dalam 12-18 bulan dan pasien
langsung dinyatakan RFT.
c.
Dosis untuk
anak
Klofazimin:
Umur,
dibawah 10 tahun: /blnHarian 50mg/2kali/minggu, Umur 11-14 tahun, Bulanan
100mg/bln, Harian 50mg/3kali/minggu,DDS:1-2mg /Kg BB, Rifampisin:10-15mg/Kg BB
d.
Pengobatan
MDT terbaru
Metode ROM adalah pengobatan MDT terbaru. Menurut WHO(1998), pasien kusta
tipe PB dengan lesi hanya 1 cukup diberikan dosis tunggal rifampisin 600 mg,
ofloksasim 400mg dan minosiklin 100 mg dan pasien langsung dinyatakan RFT,
sedangkan untuk tipe PB dengan 2-5 lesi diberikan 6 dosis dalam 6 bulan. Untuk
tipe MB diberikan sebagai obat alternatif dan dianjurkan digunakan sebanyak 24
dosis dalam 24 jam.
e.
Putus obat
Pada pasien kusta tipe PB yang tidak minum obat sebanyak 4 dosis dari yang
seharusnya maka dinyatakan DO, sedangkan pasien kusta tipe MB dinyatakan DO
bila tidak minum obat 12 dosis dari yang seharusnya.
1.
Pengobatan sejak dini dan teratur
2.
Hindari tau kurangi kontak fisik yang lama
3.
Meningkatkan personal hygienes atau kebersihan diri
dan lingkungan
4.
Meningkatkan atau menjaga daya tahan tubuh, dengan
olahraga dan peningkatan pemenuhan nutrisi
5.
Jangan bertukar pakaian dengan penderita, basil dapat
ditemukan pada kelenjar keringat
6.
Sendirikan peralatan mandi dan makan pasien
7.
Dan khususnya bagi penderita kusta tipe MB jangan
meludah sembarangan, karena basil ini masih bisa hidup beberapa hari dalam
droplet
1. Mycobacterium leprae
juga disebut Basillus Hansen, adalah
bakteri yang menyebabkan penyakit kusta (penyakit Hansen).
2. Penyakit
kusta merupakan jenis-jenis penyakit kulit yang sulit dideteksi dan gejalanya
sukar diamati serta muncul sangat lambat.
3. Walaupun
penyakit kusta tergolong sebagai penyakit yang berbahaya, penularan penyakit
kusta tidak tergolong mudah
4. Mycobacterium leprae
merupakan basil tahan asam (BTA) bersifat obligat intraseluller, menyerang
saraf perifer, kulit dan organ lain seperti mukosa saluran napas bagian atas,
hati, sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat.
5. Mycobacterium leprae
masuk kedalam tubuh manusia, jika orang tersebut memiliki respon imunitas yang
tinggi maka kusta akan lebih mengarah pada tuberkuloid, namun jika respon
imunitas dari tubuh orang tersebut rendah maka kusta akan lebih mengarah pada
lepromatosa.
6. Manifestasi
klinik dari penderita kusta adalah adanya lesi kulit yang khas dan kehilangan
sensibilitas.
DAFTAR PUSTAKA
Jakarta,Departemen
Kesehatan RI Dirjen P2M dan PLP, 1996, Buku
Pedoman Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta.
Harahap,
M. 1997. Diagnosis and Treatment of Skin
Infection, Blackwell Science, Australia
Adhi,
N. Dkk, 1997. Kusta, Diagnosis dan
Penatalaksanaan, FK UI, Jakarta.