Minggu, 29 April 2018

MAKALAH MYCOBACTERIUM LEPRAE

MAKALAH
MYCOBACTERIUM LEPRAE

MATA KULIAH : MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI


Dosen Pengampu : Rizki Nisfi Ramdhini, M.Si


DI SUSUN OLEH :
DIMAS DEPRI TAHIR
NIM: 144012017011






PRODI  D III  KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH 
PRINGSEWU LAMPUNG
2018

KATA PENGANTAR


Puji dan Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat sertaa hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan tugas makalah penulis yang bertema MYCOBACTERIUM LEPRAE
Shalawat dan salam tidak lupa penulis kirimkan kepada rasulullah Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam kegelapan menuju zaman terang benderang ini.
Makalah ini di maksudkan sebagai tuntutan belajar bagi mahasiswa di institusi pendidikan kesehatan khususnya program studi D-III Keperawatan Semoga dengan adanya makalah ini bisa memberi sedikit pengetahuan bagi pembaca khususnya bagi penulis sendiri, makalah ini terselesaikan oleh karena bantuan banyak pihak.
Tentunya penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan serta masih jauh dari kata kesempurnaan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dari para pembaca untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Akhir kata penulis mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Pringsewu. 22 Maret 2018


Penulis









DAFTAR ISI








BAB I

PENDAHULUAN


Mikroorganisme adalah organisme yang berukuran sangat kecil dan hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Mikroorganisme terdapat dimana-mana. Interaksinya dengan sesama mikroorganisme ataupun organisme lain dapat berlangsung dengan cara yang aman dan menguntungkan maupun merugikan.Mikroorganisme yang menguntungkan dapat kita manfaatkan untuk kepentingan kesejahteraan hidup manusia. Akan tetapi, banyak juga mikroorganisme yang tidak menguntungkan kita yaitu dengan menyebabkan terjadinya penyakit pada tubuh manusia.
Salah satu contoh mikroorganisme adalah bakteri,yang mana  merupakan mikroorganisme bersel-tunggal yang bereproduksi dengan cara sederhana, yaitu dengan pembelahan biner. Bakteri juga memiliki ciri-ciri yang membedakannya dari organisme lain yaitu prokariotik, monoseluler, ukuran 0,4 – 2 mikro meter, reproduksi : amitosis, konjugasi, transformasi, transduksi, memiliki dinding sel, autotrof atau heterotrof,  aerob atau anaerob, hidup bebas atau parasit, yang hidupnya kosmopolit diberbagai lingkungan dinding selnya mengandung peptidoglikan.
      Pada bakteri terdapat pula yang menguntungkan dan merugikan, sebagai contoh bakteri yang merugikan adalah Mycobacterium leprae yang dapat menyebabkan atau menginfeksi manusia. Bakteri ini mengakibatkan penyakit kusta atau lepra yang mana merupakan penyakit ganas pembunnuh manusia. Mycobacterium leprae memiliki karakteristik, pengklasifikasian dan daur hidup yang berbeda dari mikroorganisme lain.



BAB II

PEMBAHASAN

1.      Klasifikasi ilmiah.
Kerajaan        : Bacteria
Filum             : Actinobacteria
Ordo              : Actinomycetales
Upaordo        : Corynebacterineae
Famili            : Mycobacteriaceae
Genus            : Mycobacterium
Spesies           : Mycobacterium leprae.

2.      Morfologi
Gambar . Mycobacterium leprae

Mycobacterium leprae juga disebut Basillus Hansen, adalah bakteri yang menyebabkan penyakit kusta (penyakit Hansen). Bakteri ini merupakan bakteri intraselular. M. leprae merupakan gram-positif berbentuk tongkat. Mycobacterium leprae merupakan pathogen intrasel obligat sehingga belum dapat dibiakkan invitro (media tak hidup). Bakteri sering ditemukan pada sel endothelial pembuluh darah atau sel mononuclear (makrofag) sebagai lingkungan yang baik untuk bertahan hidup dan perkembangbiakan. Perkiraan waktu bagi bakteri ini bereplikasi adalah 10-12 hari (Martiny, 2006).
Basil lepra ini tahan terhadap degradasi intraseluler oleh makrofag, mungkin karena kemampuannya keluar dari fagosom ke sitoplasma makrofag dan berakumulasi hingga mencapai 1010 basil/gram jaringan pada kasus lepratype lepromatus. Kerusakan syaraf perifer yang terjadi merupakan sebuah respon dari system imun Karena adanya basil ini sebagai antigen. Pada lepra type tuberkuloid, terjadi granuloma yang sembuh dengan sendirinya bersifar berisi sedikit basil tahan asam (Martiny, 2006).
Bakteri Mycobacterium leprae berbentuk batang, langsing atau sedikit membengkok dengan kedua ujung bakteri tumpul, tidak bergerak, tidak memiliki spora dan tidak berselubung. Sel-sel panjang, ada kecenderungan untuk bercabang. Berukuran 1-7 x 0,2-0,5µm, bersifat gram positif, tahan asam, letak susunan bakteri tunggal atau sering bergerombol serupa tumpukan cerutu sehingga sering disebut packed of cigarette, atau merupakan kelompok padat sehingga tidak dapat dibedakan antara bakteri yang satu dengan yang lainnya, kadang-kadang terdapat granulaBentuk-bentuk M. leprae yang dapat ditemukan dalam pemeriksaan mikroskopis adalah : (Martiny, 2006).
a.       Bentuk utuh (solid): dinding sel bakteri tidak terputus, mengambil zat warna secara sempurna. Jika terdapat daerah kosong/transparan ditengahnya juga dapat dikatakan solid
b.      Bentuk globus: adalah bentuk solid yang membentuk kelompok, dapat dibagi 2, yaitu :
ü  Globus besar terdiri dari 200-300 bakteri
ü  Globus kecil terdiri dari 40-60 bakteri
c.       Bentuk pecah (fragmented): dinding bakteri biasanya terputus sebagian atau seluruhnya, tidak menyerap zat warna secara merata.
d.      Bentuk berbutir-butir (granuler): tampak seperti titik-titik yang tersusun
e.       Bentuk clump adalah bentuk granuler yang membentuk kelompok tersendiri, biasanya llebih dari 500 bakteri.

Seperti mikobakteri lainnya ( atau bakteri ' acid - fast ' ), Mycobacterium leprae memiliki waktu yang lama untuk mereplikasi dirinya di luar sel inang. Beberapa peneliti berpendapat bahwa Mycobacterium leprae adalah parasit intraseluler fakultatif, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa bakteri tidak bisa bereplikasi sama sekali di luar sel. Didukung oleh fakta bahwa Mycobacterium leprae belum pernah dikultur in vitro. Ketika Mycobacterium leprae menemukan host yang tepat maka bakteri ini akan bereplikasi dengan memakan waktu hingga 13 hari untuk menjalani satu siklus replikasi. Kusta ditandai dengan replikasi bakteri di dalam vesikel intraseluler makrofag, sel Schwann, dan sel endotel. Secara umum, Mycobacterium leprae lebih memilih sel-sel tersebut pada suhu lebih rendah dari tubuh manusia, yang mengapa cenderung memanifestasikan dirinya di dekat permukaan kulit . Metabolisme Ideal terjadi pada 33 ° C dan pH antara 5,1 dan 5,6.

1.      Penyakit yang di sebabkan Mycobacterium leprae
Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh kuman  Micobacterium leprae (M.Leprae). Yang pertama kali menyerang susunan saraf tepi , selanjutnya menyerang kulit, mukosa (mulut), saluran pernafasan bagian atas,sistem retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan testis ( Amirudin.M.D, 2000 ).
         Penyakit Kusta adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta ( Mycobacterium leprae ) yang menyerang kulit, saraf tepi, dan jaringan tubuh lain kecuali susunan saraf pusat, untuk mendiagnosanya dengan mencari kelainan-kelainan yang berhubungan dengan gangguan saraf tepi dan kelainan-kelainan yang tampak pada kulit            ( Depkes, 2005 ).

2.      Mekanise Terjadinya Penyakit
Gambar . Penderita Lepra/Kusta

Penyakit kusta merupakan jenis-jenis penyakit kulit yang sulit dideteksi dan gejalanya sukar diamati serta muncul sangat lambat. Berikut ini beberapa gejala penyakit kusta yang dilansir dari berbagai sumber:
ü  Penderita mengalami mati rasa. Penderita tidak bisa merasakan perubahan suhu hingga kehilangan rasa sentuhan dan rasa sakit pada kulit.
ü  Pembesaran pembuluh darah yang biasanya di sekitar siku dan lutut.
ü  Perubahan bentuk atau kelainan pada wajah.
ü  Hidung tersumbat atau terjadi mimisan.
ü  Muncul luka tapi tidak terasa sakit.
ü  Mata menjadi kering dan jarang mengedip biasanya dirasakan sebelum muncul tukak berukuran besar.
ü  Lemah otot atau kelumpuhan.
ü  Hilangnya jari jemari.
ü  Terdapat bercak tipis seperti panu pada beberapa bagian tubuh. Bercak putih akan terus bertambah, seiring dengan berjalannya waktu, semakin lama semakin melebar dan bertambah banyak.

ü  Terjadinya pelebaran syaraf ulnaris, medianus, aulicularis magnus seryta peroneus.
ü  Kelenjar keringat mengalami penurunan fungsi kerja, sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat.
ü  Sponsors Link
ü  Terdapat bintil-bintil kemerahan (leproma dan nodul) yang tersebar pada kulit
ü  Alis rambut mengalami kerontokan
ü  Muka mengalami benjolan-benjolan dan tegang, biasa disebut dengan facies leomina (muka singa)
ü  Tubuh mengalami panas, mulai dari derajat rendah hingga menggigil.
ü  Anoreksia, mengalami mual dan malas untuk makan
ü  Nausea, hidung berlendir dan kadang-kadang disertai dengan vomitus
ü  Chepalgia
ü  Mengalami iritasi, neuritis, orichitis dan pleuritis
ü  Mengalami nephrosia, nepritis dan hepatospleenomegali

Walaupun penyakit kusta tergolong sebagai penyakit yang berbahaya, penularan penyakit kusta tidak tergolong mudah. Ketua Komite Ahli Eliminasi Kusta dan Eradikasi Frambusia, Hariadi Wibisono menyatakan dengan makanan sehat untuk kesehatan kulit bahwa penyakit kusta tidak mudah menular, 95% penduduk mempunyai kekebalan alamiah terhadap kusta. Bahkan beliau juga menyatakan bahwa tidak perlu khawatir merangkul, bersalaman dengan orang yang sakit kusta, karena penyakit itu tidak akan mudah menular begitu saja.
Cara awal penularan penyakit kusta yang biasa sering menyerang seseorang, sebagai berikut:
ü  Penyakit kusta hanya bisa menular saat terjadi kontak langsung dengan pasien tersebut, sehingga yang beresiko tinggi tertular penyakit kusta adalah orang yang tinggal satu rumah dengan penderita penyakit kusta.
ü  Menurut Direktur Rumah Sakit Sehat Terpadu Dompet Duafa, dr Yahmin Setiawan, selain faktor keluarga yang tidak memerhatikan kesehatan lingkungan, faktor daya tahan tubuh yang rendah akan mengakibatkan virusakan masuk ke dalam diri orang tersebut.
ü  Virus itu baru akan berkembang setelah beberapa tahun. Maka dari itu, perlu diadakan sosialisasi tentang penyakit kusta secara menyeluruh, bagaimana penularanya dan penanganannya, selain untuk mencegah penyebaran juga menghindari stigma  di dalam masyarakat yang menyatakan bahwa penyakit kusta adalah penyakit yang gampang menular.
ü  Diperkirakan terdapat dua bagian tubuh pada manusia yang menjadi jalan masuk penyakit kusta. Dua bagian tubuh itu adalah bagian kulit dan mukosa hidung. Diduga juga bakteri penyebab kusta, yaitu Mycobacterium leprae, juga dapat masuk lewat kelenjar keringat.
ü  Dalam penularan penyakit kusta, faktor genetika pun ikut berperan. Hal ini dibuktikan setelah melakukan penelitian dan pengamatan mendalam pada kelompok bisa terjadi pada keluarga tertentu saja.
ü  Faktor ketidakcukupan gizi adalah salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab seorang individu bisa terjangkit penyakit kusta

1.      Pemeriksaan bakterioskopik (bakteri di laboratorium)
Pemeriksaan bakterioskopik digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis dan pengamatan pengobatan. Sediaan dibuat dari kerokan kulit atau mukosa hidung yang diwarnai dengan pewarnaan terhadap bakteri tahan asam, antara lain dengan Ziehl Neelsen. Pemeriksaan bakteri negatif pada seorang penderita, bukan berarti orang tersebut tidak mengandung M. leprae.
Pertama-tama kita harus memilih tempat-tempat di kulit yang diharapkan paling padat oleh bakteri, setelah terlebih dahulu menentukan jumlah tempat yang akan diambil. Untuk pemeriksaan rutin biasanya diambil dari minimal 4-6 tempat, yaitu kedua cuping telinga bagian bawah dan 2-4 tempat lain yang paling aktif, berarti yang paling merah di kulit dan infiltratif

2.      Pemeriksaan histopatologi (jaringan sel abnormal)
Diagnosis penyakit kusta biasanya dapat dibuat berdasarkan pemeriksaan klinis secara teliti dan pemeriksaan bakterioskopis. Pada sebagian kecil kasus bila diagnosis masih meragukan, pemeriksaan histopatologis dapat membantu. Pemeriksaan ini sangat membantu khususnya pada anak-anak bila pemeriksaan saraf sensoris sulit dilakukan, juga pada lesi dini contohnya pada tipe indeterminate, serta untuk menentukan tipe yang tepat.

3.      Pemeriksaan serologis
Kegagalan pembiakan dan isolasi kuman M. leprae mengakibatkan diagnosis serologis merupakan alternatif yang paling diharapkan. Beberapa tes serologis yang banyak digunakan untuk mendiagnosis kusta adalah :
ü  tes FLA-ABS
ü  tes ELISA
ü  tes MLPA untuk mengukur kadar antibodi Ig G yang telah terbentuk di dalam tubuh pasien, titer dapat ditentukan secara kuantitatif dan kualitatif.
a.       Pencegahan Cacat Kusta
Prinsip yang penting pada perawatan sendiri untuk pencegahan cacat kusta adalah :
ü  pasien mengerti bahwa daerah yang mati rasa merupakan tempat risiko terjadinya luka
ü  pasien dapat melakukan perawatan kulit (merendam, menggosok, melumasi) dan melatih sendi bila mulai kaku
ü  penyembuhan luka dapat dilakukan oleh pasien sendiri dengan membersihkan luka, mengurangi tekanan pada luka dengan cara istirahat
Tujuan utama program pemberantasan kusta adalah penyembuhan pasien kusta dan mencegah timbulnya cacat serta memutuskan mata rantai penularan dari pasien kusta terutama tipe yang menular kepada orang lain untuk menurunkan insiden penyakit. Program Multi Drug Therapy (MDT) dengan kombinasi rifampisin, klofazimin, dan DDS dimulai tahun 1981. Program tersebut bertujuan untuk mengatasi resistensi dapson yang semakin meningkat, mengurangi ketidaktaatan pasien, menurunkan angka putus obat, dan mengeliminasi persistensi kuman kusta dalam jaringan.
Rejimen pengobatan MDT di Indonesia sesuai rekomendasi WHO 1995 sebagai berikut:
a.      Tipe PB ( PAUSE BASILER)
Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa :
Rifampisin 600mg/bln diminum didepan petugas DDS tablet 100 mg/hari diminum di rumah. Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan dan setelah selesai minum 6 dosis dinyatakan RFT (Release From Treatment) meskipun secara klinis lesinya masih aktif. Menurut WHO(1995) tidak lagi dinyatakan RFT tetapi menggunakan istilah Completion Of Treatment Cure dan pasien tidak lagi dalam pengawasan.

b.      Tipe MB ( MULTI BASILER)
Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa:
Rifampisin 600mg/bln diminum didepan petugas. Klofazimin 300mg/bln diminum didepan petugas dilanjutkan dengan klofazimin 50 mg /hari diminum di rumah. DDS 100 mg/hari diminum dirumah, Pengobatan 24 dosis diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan sesudah selesai minum 24 dosis dinyatakan RFT meskipun secara klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri positif. Menurut WHO (1998) pengobatan MB diberikan untuk 12 dosis yang diselesaikan dalam 12-18 bulan dan pasien langsung dinyatakan RFT.


c.       Dosis untuk anak
Klofazimin:
Umur, dibawah 10 tahun: /blnHarian 50mg/2kali/minggu, Umur 11-14 tahun, Bulanan 100mg/bln, Harian 50mg/3kali/minggu,DDS:1-2mg /Kg BB, Rifampisin:10-15mg/Kg BB

d.      Pengobatan MDT terbaru
Metode ROM adalah pengobatan MDT terbaru. Menurut WHO(1998), pasien kusta tipe PB dengan lesi hanya 1 cukup diberikan dosis tunggal rifampisin 600 mg, ofloksasim 400mg dan minosiklin 100 mg dan pasien langsung dinyatakan RFT, sedangkan untuk tipe PB dengan 2-5 lesi diberikan 6 dosis dalam 6 bulan. Untuk tipe MB diberikan sebagai obat alternatif dan dianjurkan digunakan sebanyak 24 dosis dalam 24 jam.

e.       Putus obat
Pada pasien kusta tipe PB yang tidak minum obat sebanyak 4 dosis dari yang seharusnya maka dinyatakan DO, sedangkan pasien kusta tipe MB dinyatakan DO bila tidak minum obat 12 dosis dari yang seharusnya.

1.      Pengobatan sejak dini dan teratur
2.      Hindari tau kurangi kontak fisik yang lama
3.      Meningkatkan personal hygienes atau kebersihan diri dan lingkungan
4.      Meningkatkan atau menjaga daya tahan tubuh, dengan olahraga dan peningkatan pemenuhan nutrisi
5.      Jangan bertukar pakaian dengan penderita, basil dapat ditemukan pada kelenjar keringat
6.      Sendirikan peralatan mandi dan makan pasien
7.      Dan khususnya bagi penderita kusta tipe MB jangan meludah sembarangan, karena basil ini masih bisa hidup beberapa hari dalam droplet


1.      Mycobacterium leprae juga disebut Basillus Hansen, adalah bakteri yang menyebabkan penyakit kusta (penyakit Hansen).
2.      Penyakit kusta merupakan jenis-jenis penyakit kulit yang sulit dideteksi dan gejalanya sukar diamati serta muncul sangat lambat.
3.      Walaupun penyakit kusta tergolong sebagai penyakit yang berbahaya, penularan penyakit kusta tidak tergolong mudah
4.      Mycobacterium leprae merupakan basil tahan asam (BTA) bersifat obligat intraseluller, menyerang saraf perifer, kulit dan organ lain seperti mukosa saluran napas bagian atas, hati, sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat.
5.      Mycobacterium leprae masuk kedalam tubuh manusia, jika orang tersebut memiliki respon imunitas yang tinggi maka kusta akan lebih mengarah pada tuberkuloid, namun jika respon imunitas dari tubuh orang tersebut rendah maka kusta akan lebih mengarah pada lepromatosa.
6.      Manifestasi klinik dari penderita kusta adalah adanya lesi kulit yang khas dan kehilangan sensibilitas.








DAFTAR PUSTAKA


Jakarta,Departemen Kesehatan RI Dirjen P2M dan PLP, 1996, Buku Pedoman Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta.
Harahap, M. 1997. Diagnosis and Treatment of Skin Infection, Blackwell Science, Australia
Adhi, N. Dkk, 1997. Kusta, Diagnosis dan Penatalaksanaan, FK UI, Jakarta.



KEWARGANEGARAAN KETAHANAN NASIONAL

MAKALAH KEWARGANEGARAAN KETAHANAN NASIONAL DI SUSUN OLEH : KELOMPOK 5 ...